Firman Parlindungan, Alumni S2 Unisma yang Menjadi Doktor di Ohio State University

Firman, alumni Unisma yang lulus doktoral di Ohio University

Bagi saya mengajar adalah sebuah passion, khususnya mengajar Bahasa Inggris. Sebuah semangat yang dilakukan dengan penuh antusiasme. Banyak stigma di masyarakat luas bahwa mengajar Bahasa Inggris cukup dengan bekal skill Bahasa Inggris saja, seperti Listening, Speaking, Reading, dan Writing.

Asalkan keempat skill ini bisa dikuasi dan ditambah dengan rasa percaya diri yang cukup, maka siapa saja bisa berdiri di depan kelas untuk mengajar. Walaupun stigma ini ada benarnya, mengajar Bahasa Inggris ternyata jauh lebih kompleks. Saya mulai paham dan semakin tertarik mendalami bidang pendidikan Bahasa Inggris sejak lulus S1 di FKIP Universitas Islam Malang (Unisma) tahun 2011. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi S2 pendidikan Bahasa Inggris pada program Pascasarjana Unisma.

Firman, alumni Unisma yang lulus doktoral di Ohio University

Dalam dua tahun tersebut (2011-2013), cakrawala saya tentang mengajar Bahasa Inggris semakin terbuka. Saya memperdalam ilmu dan skill pedagogik yang berperan penting dalam pengembangan profesionalisme seorang guru. Saya membekali diri dengan berbagai teknik instruksional, serta bagaimana merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa yang aktif, inovatif, dan berpusat pada setiap peserta didik.

Di samping itu, saya juga memperkuat keahlian dari segi kebahasaan, seperti ilmu linguistik, linguistik terapan, sociolinguistik, pragmatik, penerjemahan, dan empat skill dasar Bahasa Inggris. Keahlian ini tentu sangat urgent untuk dikuasai sebagai bekal mentransformasi ilmu dalam proses yang kita sebut mengajar. Tanpa pengetahuan Bahasa Inggris yang mumpuni, mengajar bisa salah kaprah yang akhirnya menyesatkan banyak peserta didik.

Yang lebih menarik lagi, melalui program pascasarjana Unisma saya semakin menekuni seluk-beluk penelitian dalam bidang Bahasa Inggris. Mulai dari bagaimana merumuskan masalah penelitian yang kritis, sampai merancang desain penelitian yang sesuai. Saya juga belajar gaya selingkung dalam menulis artikel ilmiah atau laporan penelitian. Para dosen S2 Pendidikan Bahasa Inggris Unisma memiliki kemampuan dan pengetahuan riset yang luas. Bekal penelitian dan publikasi ilmiah yang saya dapatkan di Unisma telah mengantarkan saya menempuh program doktor di Amerika Serikat dan selesai tepat waktu pada tahun 2019 lalu.

Bicara fasilitas, kemajuan Unisma sudah sangat pesat. Didukung dengan ruang kelas yang nyaman, internet, dan perpustakaan digital, menyelesaikan S2 bukanlah hal yang sulit. Saya telah belajar dari dan dengan orang-orang yang punya passion dalam mengajar. Proses tersebut memberikan saya pengalaman baru untuk membangun kepercayaan diri sebagai cendekiawan dan terus tumbuh untuk mencapai tujuan hidup.

Mengajar tidak hanya tentang skill dasar. Mengajar harus selalu sejalan dengan pengembangan diri, baik dari segi kualifikasi maupun profesionalisme. Mengajar harus disertai dengan tekad dan niat yang kuat karena prosesnya melibatkan konstelasi berfikir yang kompleks, dan saya mendapatkan semua itu di Unisma.